Minggu, 22 Juli 2012

setelah lebih dari 15 bulan berjalan

di sebuah rumah yang nyaman di kawasan Sentul City,
Menjelang malam

suamiku sedang menunaikan shalat isya sementara aku menuliskan ini,



apa yang kurasakan sebagai anugerah, dan keajaiban darinya adalah
ia yang tak pernah marah
atau membalas kemarahanku
yang sering terjadi karena sifatku yang masih kekanakan dan suka mengeluh

ia hanya terdiam
membiarkan aku terus bicara, atau kadang via chatting di whatsapp
atau via sms, (ngambeknya)


tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya

tidak sekalipun wajahnya terlihat emosi


suamiku yang bertubuh amat besar untuk ukuran orang indonesia
tidak pernah marah padaku, atau memarahiku

yang kadang karena sakit atau lelah
tidak sempat membereskan rumah, atau memasak untuknya
atau hal lain yang lazim dilakukan perempuan indonesia pada suaminya